altimage
INTP:IJ Rp. 12.325 altimage -0,60%
26-Oct-2020 15:35
altimage
INTP:IJ Rp. 12325 altimage -0.60%
26-Oct-2020 15:35

Pelestarian Lingkungan Hidup

Komitmen dan Kebijakan

Lingkungan hidup menjadi salah satu perhatian utama bagi Indocement. Perseroan berkomitmen untuk mengurangi jejak lingkungan dengan menerapkan operasional yang lebih ramah terhadap lingkungan. Selain itu, Perseroan juga memiliki komitmen untuk menyelaraskan antara kegiatan operasional dengan kelestarian lingkungan. Perseroan senantiasa memastikan setiap kegiatan semaksimal mungkin dapat berdampak positif terhadap lingkungan, terutama dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, yang diwujudkan melalui partisipasi Perseroan dalam kegiatan kelestarian lingkungan.

Perseroan sendiri memiliki kebijakan untuk bersungguhsungguh mewujudkan industri semen yang ramah lingkungan. Seluruh kegiatan operasional yang dilaksanakan, senantiasa mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pengelolaan lingkungan, sehingga dampak terhadap lingkungan dapat diminimalisasi.

Kebijakan dan komitmen Indocement dalam pelestarian lingkungan hidup dituangkan dalam kebijakan Perseroan yang ditandatangani oleh Direktur Utama Indocement. Kebijakan tersebut antara lain meliputi:

  1. Upaya nyata untuk melakukan penghematan sumber daya alam;

  2. Melakukan konservasi keanekaragaman hayati;

  3. Melakukan konservasi di bidang energi;

  4. Mencegah pencemaran lingkungan melalui kegiatan perbaikan secara berkelanjutan.

Isu dan Risiko Lingkungan yang Relevan dengan Perseroan

Perseroan menyadari, menjalankan usaha di industri semen (dan turunannya), dapat mengubah bentang alam, baik secara langsung maupun tidak langsung. Selain itu, terdapat isu dan risiko lingkungan penting lainnya yang relevan dengan aktivitas Perseroan, antara lain:

Salah satu isu lingkungan utama tahun 2019 adalah terkait hasil KTT Iklim PBB atau COP25 yang diselenggarakan di Madrid, Spanyol. Melalui pertemuan tersebut, telah disepakati penetapan aturan untuk menciptakan pasar karbon di antara negara, kota, dan perusahaan sebagai cara untuk memberikan insentif bagi strategi pengurangan emisi yang agresif di berbagai sektor. Termasuk hutan yang dianggap penting untuk memperlambat pemanasan global yang tanpa henti ini.

Selain itu, melalui Paris Agreement yang akan berlaku efektif pada 2020 Indonesia juga telah menyepakati untuk menurunkan persentase gas rumah kaca yaitu sebesar 1,49%.

Indocement merupakan pelopor pertama di sektor industri semen yang sudah menerapkan Sistem Informasi Pemantauan Emisi Industri Kontinyu (SISPEK) untuk memastikan data yang terpercaya dan obyektif. Data dikirim secara daring ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui continuous emission monitoring (CEM) saat ini sudah diimplementasikan di Plant 4, Plant 9, Plant 10, Plant 14.

Untuk program penurunan emisi gas rumah kaca Kompleks Pabrik Citeureup, Cirebon dan Tarjun telah mengacu UNFCCC melalui verifikasi pengurangan emisi pada periode tertentu.

Target dan Rencana yang Ditetapkan Manajemen

Target dan rencana tanggung jawab lingkungan Indocement telah tertuang dalam tujuan Indocement pada 2019 yang meliputi debu dengan standar 60 mg/Nm3, SOx 630 mg/Nm3, NOx 750 mg/Nm3.

Kegiatan dan Capaian Kegiatan

Fokus pelaksanaan program tanggung jawab terkait kelestarian lingkungan hidup di Indocement terbagi menjadi lima bidang utama, yaitu: pengendalian emisi; pengelolaan limbah; efisiensi energi; penggunaan material alternatif serta penghijauan dan konservasi lingkungan. Disamping itu, Perseroan juga memiliki program CSR lingkungan hidup berkelanjutan.

Pengendalian Emisi

Emisi menjadi salah satu isu penting dalam aktivitas Perseroan. Karena itu, Perseroan berupaya melakukan pengendalian terhadap emisi yang ditimbulkan dari aktivitas operasional Perseroan, antara lain terkait emisi karbon, emisi gas rumah kaca, emisi debu, kebisingan serta getaran.

Penjelasan terkait penanganan dan upaya mitigasi yang dilakukan Perseroan adalah sebagai berikut:

Emisi Karbon

Dalam pembuatan klinker untuk produksi semen, Perseroan melakukan proses pembakaran dan reaksi kimia sehingga menghasilkan gas karbon dioksida (CO2). Indocement memiliki komitmen yang tinggi untuk terus menekan emisi karbon dalam proses produksi semen.

Pada 2019, fokus pengendalian emisi karbon di Indocement masih dilakukan dengan pelaksanaan proyek semen campuran (blended cement project) dan proyek bahan bakar alternatif (alternative fuel project) dalam kerangka clean development mechanism (CDM).

Perseroan menghasilkan semen campuran untuk menurunkan emisi CO2 dengan cara mengurangi kandungan klinker dalam pembuatan semen dan tetap memperhatikan kualitas yang dihasilkan. Perseroan menggunakan material alternatif berupa limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dan non-B3, baik yang berasal dari dalam Indocement maupun dari industri lain. Pengurangan emisi karbon melalui penggunaan bahan bakar dan material alternatif sejak tahun 2005 hingga 2019 mencapai 8.545.437 ton, sedangkan pengurangan emisi karbon pada sektor transportasi sejak tahun 2013 hingga 2019 sebesar 306.535 ton.

Emisi Gas Rumah Kaca (GRK)

Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 61/2011 tentang Rencana Aksi Penurunan Gas Rumah Kaca (GRK) dan Peraturan Presiden Nomor 71/2011 tentang Pencatatan Penyelenggaraan Inventarisasi GRK Nasional yang terkait dengan Emisi GRK. Indocement berkomitmen untuk mentaati peraturan tersebut dengan melakukan berbagai inisiatif untuk menekan emisi GRK dari aktivitas operasional Perseroan.

Salah satu inisiatif yang dijalankan Perseroan untuk mengendalikan emisi GRK adalah dengan terus meningkatkan penggunaan bahan bakar alternatif dan melanjutkan proyek semen campuran. Inisiatif ini telah mendapat pengakuan dari United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Indocement adalah perusahaan pertama di Asia Tenggara yang menerima Certified Emission Reductions (CER) untuk proyek bahan bakar alternatif di 2008.

Pemakaian bahan bakar alternatif bersumber dari pemanfaatan biomassa dalam proses pembakaran di kiln yang merupakan CO2-neutral. Biomassa yang digunakan antara lain sekam padi, cangkang kelapa sawit, dan serbuk gergaji. Pada 2019, penggunaan bahan bakar alternatif meningkat sebesar 7,36% dari semua bahan bakar yang digunakan berasal dari sumber alternatif.

Emisi Debu

Sesuai HeidelbergCement Sustainability Commitments 2030 untuk mengurangi jejak lingkungan, di 2019 Indocement melanjutkan proses penggantian electrostatic precipitator (EP) dengan teknologi Bag Filter yang canggih, khususnya di Plant 9 dan Plant 10, Kompleks Pabrik Cirebon serta Plant 4 dan Plant 14, Kompleks Pabrik Citeureup. Penggantian Bag Filter ini merupakan upaya Indocement untuk menekan emisi debu. Perseroan menargetkan pada 2022 seluruh pabrik telah terpasang Bag Filter.

Sejatinya, penggunaan EP sudah memenuhi baku mutu yang ditetapkan, yakni 53,7 mg/Nm³. Dalam Lampiran ke-1 Peraturan Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Nomor P.19/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2/2017 tentang Baku Mutu Emisi bagi usaha dan/atau kegiatan industri semen yakni 70 mg/Nm³, namun Indocement berkomitmen untuk dapat menekan emisi debu hingga serendah mungkin. Karena itulah Perseroan menggunakan Bag Filter yang rata-rata emisi debu yang keluar adalah 9,3 mg/Nm³, walau harga Bag Filter jauh lebih tinggi dibandingkan EP.

Total biaya yang dikeluarkan Perseroan dalam penggantian Bag Filter pada 2019 adalah sebesar Rp54 miliar.

Kebisingan dan Getaran

Untuk transportasi material dari dan menuju pabrik di Citeureup dan Tarjun, Perseroan menggunakan belt conveyor yang panjang. Jalur conveyor tersebut “melintasi” pemukiman warga, sehingga pengoperasian belt conveyor tersebut menjadi salah satu perhatian utama manajemen Indocement, karena berdampak adanya kebisingan dan getaran.

Sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan, ambang batas kebisingan yang diperbolehkan adalah hingga 55 dB(A) untuk area perumahan dan pemukiman dan 70 dB(A) untuk area industri.

Belt conveyor yang dioperasikan Perseroan telah memenuhi tingkat baku kebisingan tersebut, dimana rata-rata tingkat kebisingannya adalah sebesar 51 dB(A). Pada 2017, Perseroan mengambil inisiatif untuk melakukan penggantian roller pada belt conveyor dengan menggunakan low-noise roller belt conveyor untuk mengurangi tingkat kebisingan dari belt conveyor tersebut.

Penggunaan low-noise rollers belt conveyor berhasil menurunkan tingkat kebisingan menjadi rata-rata 48 dB(A). Namun, karena bahan dasar low-noise rollers belt conveyor terbuat dari teflon, sehingga dapat mudah terbakar. Pada 2019, terjadi musibah kebakaran pada belt conveyor di Kompleks Pabrik Citeureup, sehingga Perseroan kembali mengganti belt conveyor tersebut dengan material yang lama, sambil terus mencari alternatif bahan yang lebih aman.

 

Pengelolaan Limbah

Pengelolaan limbah merupakan salah satu perhatian utama bagi Indocement. Dalam operasionalnya, Perseroan menghasilkan limbah, baik limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), non-B3, dan limbah domestik.

Indocement memiliki kebijakan pengelolaan limbah untuk B3 dan non-B3 serta menetapkan prosedur standar pengelolaan limbah berdasarkan karakteristiknya. Hal ini bertujuan untuk memastikan agar pengelolaan limbah di seluruh daerah operasi Perseroan memiliki perencanaan yang baik dan termonitor secara berkala, tepat waktu serta terus dievaluasi.

Limbah B3

Pengelolaan limbah B3 di Indocement mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 101/2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Perseroan menggunakan pendekatan reduce-reuse-recyclerecovery atas limbah B3 yang dihasilkan.

Proses pengelolaan limbah memperhatikan sifat fisik limbah, yaitu berupa padat, cair dan materi di dalamnya B3 dan non-B3. Limbah yang tidak dapat dikelola diserahkan ke pihak ketiga berizin melalui proses penawaran. Proses pengangkutan limbah B3 dan non-B3 beserta pengamanannya menjadi tanggung jawab pihak ketiga sesuai dengan peraturan yang berlaku. Indocement menjamin tidak ada kebocoran maupun tumpahan limbah B3 yang berpotensi membahayakan lingkungan hidup.

Perseroan juga telah memperoleh Izin Pemanfaatan Limbah B3 dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk Kompleks Pabrik Citeureup; Nomor SK 518/MenLH-Setjen/2015 junto KepmenLHK No.SK 288/MenLH-Setjen/PLB3/6/2018, untuk Kompleks Pabrik Cirebon Nomor SK 400/MenLHSetjen/2015 junto KepmenLHK No.SK 355/MenLH-Setjen/PLB3/8/2018, Kompleks Pabrik Tarjun Nomor SK 381/MenLH-Setjen/5/2016junto KepmenLHK No.SK 380/MenLH-Setjen/PLB3/9/2018. Pada 2019, pemanfaatan bahan bakar alternatif dari limbah B3 dan non-B3 sebesar 7,36% dari total penggunaan bahan bakar.

Limbah Domestik

Perseroan melakukan pengelolaan dan pengolahan limbah domestik dari operasional perusahaan sebagai bahan bakar alternatif, khususnya non-biomassa (sampah domestik tersortir). Perseroan melakukan penyortiran limbah domestik berdasarkan jenisnya untuk kemudian dikelola sebagaimana mestinya.

Di 2019, Perseroan mencatat pemanfaatan limbah B3 sebagai bahan baku alternatif dan bahan bakar alternatif sebesar 828.981,3 ton dan pemanfaatan limbah non-B3 bahan bakar alternatif sebesar 172.539,2 ton. Pencapaian tersebut didorong oleh komitmen nyata dari manajemen untuk menggunakan lebih banyak bahan bakar alternatif. Selain mengurangi emisi CO2, biaya penggunaan bahan bakar alternatif yang berasal dari limbah domestik lebih kompetitif dibanding batu bara.

Program Pengelolaan Limbah Berbasis Masyarakat

Perseroan turut berpartisipasi dalam Program Kampung Iklim (Proklim) yang digalakkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kepada masyarakat melalui pemerintahan desa. Salah satu kegiatan yang dijalankan adalah pengelolaan sampah rumah tangga.

Efisiensi Energi

Energi menjadi elemen yang sangat penting bagi industri semen. Kebutuhan akan energi sangat besar. Bahkan, biaya energi mengambil porsi hingga 40% dari total biaya produksi semen. Oleh karena itu, Perseroan memiliki fokus yang tinggi dalam penggunaan energi yang efisien.

Dalam proses produksi semen, Perseroan menggunakan energi fosil yang berasal dari bahan bakar minyak (BBM) dan batu bara serta energi listrik.

Untuk menekan penggunaan energi fosil, Perseroan memanfaatkan berbagai jenis limbah sebagai pengganti batu bara. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik, Perseroan juga memiliki fasilitas pembangkit listrik, yaitu di Kompleks Pabrik Cirebon dan Kompleks Pabrik Citeureup dengan kapasitas masing-masing sebesar 12,0 MW dan 300,5 MW. Sedangkan di Kompleks Pabrik Tarjun, Perseroan mengoperasikan pembangkit listrik tenaga batu bara dengan kapasitas 55 MW.

Sejak tahun 2017, Perseroan mengalami penurunan intensitas penggunaan energi per tahun dalam proses produksi maupun dengan fasilitas pendukung. Di 2019, intensitas energi mencapai 2,68 GJ/ton semen ekuivalen.

Penggunaan Material Ramah Lingkungan dan Dapat Didaur Ulang

Dalam proses produksi semen, Perseroan menggunakan material alternatif seperti copper slag, bottom ash, fly-ash dan granulated blast furnace slag. Dari waktu ke waktu, Perseroan berupaya untuk terus meningkatkan penggunaan material alternatif yang dapat didaur ulang.

Indocement menjadikan Cement Sustainability Initiative (CSI) sebagai panduan dalam menjaga keseimbangan antara kegiatan produksi dan kelestarian alam. Perseroan mengembangkan produk ramah lingkungan dengan menggunakan bahan bakar alternatif. Melalui Proyek Semen Campuran (Blended Cement Project), Indocement berhasil mereduksi emisi CO2 dengan memproduksi semen ramah lingkungan.

Penurunan emisi CO2 dilakukan dengan mencampur bahan baku alternatif dan subtitusi kandungan klinker dalam produk semen tanpa mengurangi kualitas. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan bahan baku alternatif yang dicampurkan melalui raw mill dan cement mill seperti copper slag, bottom ash, fly-ash, dan granulated blast furnace slag. Inisiatif ini tidak hanya mereduksi emisi, tetapi juga mengurangi volume limbah, termasuk limbah B3.

Disamping itu, Perseroan juga menggunakan bahan bakar alternatif dari biomassa dalam upaya menurunkan emisi CO2. Bahan bakar alternatif yang digunakan adalah cangkang sawit dan serbuk gergaji yang dianggap sebagai CO2-neutral. Pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar alternatif telah disesuaikan dengan kerangka CDM sesuai dengan Protokol Kyoto.

Penghijauan dan Konservasi Lingkungan

Indocement berkomitmen untuk melakukan program reklamasi dan penghijauan di lokasi operasional dan penambangan yang dilakukan Perseroan. Aktivitas penambangan bahan baku semen memengaruhi keberadaan habitat flora dan fauna lokal untuk sementara waktu. Guna mengurangi dampak negatif bagi keanekaragaman

hayati, Perseroan melakukan perencanaan, pelaksanaan dan rehabilitasi kawasan penambangan berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 7 Tahun 2014 dengan berpedoman pada sejumlah dokumen lingkungan, seperti analisa dampak lingkungan (Amdal), rencana pengelolaan lingkungan/rencana pemantauan lingkungan (RKL/RPL), RKAB, dokumen rencana reklamasi, dan laporan triwulan.

Kegiatan reklamasi terdiri dari penataan lahan (regrading), penanaman (revegetasi), pengendalian erosi dan sedimentasi serta pemeliharaan tanaman. Untuk memulihkan kondisi lahan seperti semula, kegiatan reklamasi juga mempertimbangkan program konservasi keanekaragaman hayati setempat.

Kegiatan CSR Lingkungan Hidup Berkelanjutan

Indocement memiliki sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan hidup yang dilaksanakan secara berkelanjutan, antara lain:

  1. Kampung Ramah Lingkungan

    Merupakan kegiatan di suatu lokasi dimana masyarakatnya melakukan upaya atau tindakan nyata dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara terukur dan berkesinambungan.

  2. Program Kampung Iklim

    Merupakan program yang diprakarsai oleh KLHK untuk mencegah terjadinya dampak perubahan iklim secara drastis, antara lain kelaparan, kekeringan, dan kesulitan air bersih.

  3. Kampung Inspirasi Cilengkrang

    Indocement memberikan pemahaman kepada warga Kampung Cilengkrang, Bandung untuk peduli terhadap lingkungan dengan melakukan pengelolaan sampah rumah tangga sehingga memiliki nilai jual. Sampah yang sebelumnya menjadi masalah kini malah menjadi sumber penghasilan masyarakat setempat, yaitu dengan memproduksi pupuk kompos dan aneka kerajinan tangan.

  4. Program Sekolah Adiwiyata

    Merupakan program kerjasama antara Departemen Pendidikan Nasional dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang dimulai sejak 1996. Program ini berfokus kepada pengembangan dan pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup.

  5. Tegal Panjang, Laboratorium Hidup di Lahan pasca Tambang Quarry D

    Indocement memiliki kewajiban untuk melakukan reklamasi pasca tambang. Salah satu lahan yang telah direklamasi adalah lahan bekas tambang Quarry D seluas 60 hektar di Tegal Panjang, Cariu, Bogor. Reklamasi dilakukan dengan menanam vegetasi berbatang keras seperti Pohon Mahoni dan Pohon Jati.

  6. Indocement Wildlife Education Center (IWEC)

    Sebuah pusat pelatihan dan penyelamatan satwa langka endemik Kalimantan Selatan. IWEC yang dibangun di Kompleks Pabrik Tarjun merupakan upaya yang dilakukan Indocement untuk mencegah kepunahan satwa langka Bekantan, Owa-Owa dan Rusa Sambar, yang memang secara perlahan mulai terancam habitatnya.

  7. Energy Crops

    Perseroan mengedepankan teknologi berwawasan lingkungan, dimana bagi Industri semen sebagian besar dari kebutuhan energinya adalah dengan memakai batu bara. Harga Batu bara semakin hari semakin mahal, untuk itu sejak 2002, Indocement melakukan alih teknologi dengan menerapkan mekanisme pembangunan bersih (CDM) sehingga dapat mengurangi emisi CO2 yang dihasilkan dari batu bara dan dapat diperbaharui. Salah satunya dengan penganekaragaman tanaman enegy crops seperti jarak pagar, king grass, dan kemiri sunan. Tanaman tersebut mengandung nilai kalori yang cukup tinggi berkisar 3.000-7.000 kalori/gram. Selain sebagai bahan alternatif, tanaman tersebut berfungsi juga sebagai reklamasi di area penyangga.

  8. Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

    Salah satu komitmen Indocement dalam pengelolaan lingkungan diantaranya pengelolaan sampah berbasis komunitas yaitu kolaborasi terpadu antara Perseroan, pemerintah desa dan masyarakat desa mitra. Perseroan bekerjasama dengan pemerintah desa membentuk unit usaha yang bergerak dibidang pengolahan sampah dan dikelola oleh badan usaha milik desa, yang hasilnyauntuk kesejahteraan masyarakat desa sekitar. Unit Pengolahan Sampah Badan Usaha Milik Desa (UPS BUMDes) Palimanan Barat mulai beroperasi di 2008 dengan menyerap 14 tenaga kerja dan terus melakukan perbaikan untuk meningkatkan kapasitas produksi sehingga dapat meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat.

  9. Pengolahan Sampah Menjadi Energi

    Salah satu komitmen dalam pengelolaan lingkungan adalah melalui pengelolaan sampah sehingga mampu meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat maupun karyawan. Implementasi dari komitmen tersebut tertuang dalam Renstra Lingkungan sebagai salah satu bagian kebijakan perusahaan oleh karena itu Indocement mendorong pengembangan pengelolaan sampah yang dihasilkan oleh masyarakat desa mitra maupun sampah Perusahaan. Salah satu bentuk kerjasama adalah dibentuknya unit usaha yang bergerak di bidang pengolahan sampah yang dikelola oleh badan usaha milik desa (BUMDes), yang hasilnya untuk kesejahteraan masyarakat desa sekitar.

  10. Pelestarian Mangrove di Desa Langadai

    Tarjun terancam gundul akibat penebangan yang dilakukan masyarakat untuk menjadi kayu bakar atau dibuka menjadi lahan tambak. Selain merusak lingkungan, tindakan tersebut juga dapat memberikan dampak negatif bagi masyarakat. Sosialisasi dan edukasi yang diberikan kepada masyarakat untuk lebih peduli terhadap perkembangan mangrove dengan cara melakukan penanaman ulang oleh kelompok masyarakat yang ada di Desa Langadai membuktikan bahwa masyarakat sudah peduli terhadap kelestarian mangrove.

  11. Indobatik Ciwaringin dan Palimanan Barat

    Desa Ciwaringin Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat merupakan desa pengrajin batik yang telah dilakukan turun temurun. Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan pada 2014, Batik Ciwaringin memiliki beragam kendala salah satunya adalah terlalu dominannya penggunaan pewarna sintetis.

    Oleh karena itu, Indocement membuat program untuk mendorong agar pembatik mengurangi penggunaan pewarna sintetis dan beralih menggunakan pewarna alamiah sehingga proses produksi batik menjadi bersih dan ramah lingkungan.

    Hasilnya pada 2019 batik tulis pewarna alami Ciwaringin mendapatkan ecolabel dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan di Indonesia satu-satunya kain batik yang mendapatkan ecolabel dengan nomor register produk 25.PPLES.03.19.

Mekanisme Pengaduan Masalah Lingkungan

Masyarakat sekitar pabrik dapat menyampaikan pengaduan masalah lingkungan yang ditimbulkan oleh Indocement melalui pertemuan bipartit antara pihak Perseroan yang diwakili koordinator desa dengan masyarakat minimal dua bulan sekali di setiap desa.

Sertifikasi di Lingkungan Hidup

Sebagai perusahaan yang juga memanfaatkan sumber daya alam, operasional Perseroan memiliki kaitan yang sangat dekat dengan lingkungan hidup. Karena itu, untuk memastikan bahwa kegiatan usaha Perseroan tidak memberikan dampak yang buruk terhadap lingkungan hidup, Perseroan menjalankan kegiatan operasionalnya dengan memenuhi standar sertifikasi internasional di bidang lingkungan hidup yang diaudit secara berkala.

Pada 2019, sertifikasi di lingkungan hidup yang dimiliki Indocement antara lain:

Indocement, Produsen Semen Tiga Roda dan Semen Rajawali