altimage
INTP:IJ Rp. 16.675 altimage 1,68%
19-Sep-2018 17:16
altimage
INTP:IJ Rp. 16675 altimage 1.68%
19-Sep-2018 17:16

Pelestarian Lingkungan Hidup

Kebijakan

Kebijakan dan komitmen Indocement dalam pelestarian lingkungan hidup dituangkan dalam kebjiakan perusahaan yang ditandatangai oleh Direktur Utama Indocement. Kebijakan tersebut antara lain meliputi :

  1. Upaya-upaya nyata untuk melakukan penghematan sumber daya alam;
  2. Melakukan konservasi keanekaragaman hayati;
  3. Melakukan konservasi dibidang energi;
  4. Mencegah pencemaran lingkungan melalui kegiataan perbaikan secara berkelanjutan;

Target dan Rencana Kegiatan

Di 2017, Indocement memiliki beberapa target dan rencana kegiataan yang berkaitan dengan lingkungan hidup, antara lain:

  1. Mengurangi rata-rata emisi debu yang keluar dari pabrik Perseroan; dan
  2. Mengurangi tingkat kebisingan suara yang disebabkan oleh conveyor milik Perseroan.

Mengurangi Emisi Debu

Pada tahun 2017, Indocement melakukan penggantian Electrostatic Precipitator (“EP”) dengan Bag Filter pada Plant 10. Penggantian tersebut merupakan inisiatif Indocement untuk mengurangi emisi debu yang keluar dari pabrik-pabrik Perseroan. Hal ini sejalan dengan prinsip yang tertera pada HeidelbergCement Sustainability Commitment 2030 untuk mengurangi jejak lingkungan.

Pada kenyataannya,teknologi EP telah mampu mengurangi rata-rata emisi debu keluar menjadi 53,7 mg/Nm³ yang berarti berada di bawah baku mutu emisi (BME) yang diatur dalam Lampiran ke-1 PERMENLHK No. P.19/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2/2017 tentang Baku Mutu Emisi bagi usaha dan/atau kegiatan industri semen yakni 70 mg/Nm³. Namun demikian, Perseroan memutuskan untuk mengganti EP dengan Bag Filter dengan rata-rata emisi debu yang keluar adalah 9,3 mg/Nm³ sehingga terjadi reduksi emisi debu sebesar 82,6% dibandingkan EP.

Total biaya yang dikeluarkan Perseroan dalam penggantian Bag Filter untuk Plant 10 mencapai Rp84.5 miliar.

Saat ini 4 pabrik Indocement yakni Plant 4, Plant 9, Plant 10, dan Plant 14 sudah menggunakan Bag Filter. Perseroan berkomitmen untuk mengganti EP menjadi Bag Filter pada seluruh pabrik milik Perseroan hingga tahun 2022.

Mengurangi Tingkat Kebisingan Suara

Perseroan mengoperasikan conveyor yang melintas di lingkungan penduduk. Tahun 2017, Perseroan melakukan penggantian Rollers Belt Conveyor dengan Low Noise Rollers Belt Conveyor sebanyak 1.585 buah.

Sebelumnya, Rollers Belt Conveyor yang dioperasikan Perseroan menghasilkan rata-rata noise 51 dB dan sudah di bawah nilai baku tingkat kebisingan yang ditetapkan oleh Kementerian LHK dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No: KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan yakni 55 dB (A) untuk area perumahan dan pemukiman dan 70 dB (A) untuk area industri.

Penggantian rollers terjadi di sepanjang jalur belt conveyor quarry D menuju pabrik, dengan panjang 4,6 kilometer. Setelah dilakukan penggantian dengan Low Noise Rollers Belt Conveyor tingkat kebisingan suara dapat ditekan menjadi menjadi rata-rata hanya 48 dB.

Material utama dari low noise rollers belt conveyor adalah ultra high molecure weight yang mampu bekerja secara konsisten dalam suhu tinggi namun memiliki kelenturan seperti plastik, sehingga memperhalus gesekan antara rollers dengan conveyor belt.

Dalam dua tahun ke depan, Indocement direncanakan juga akan menggunakan low noise belt conveyor untuk jalur belt conveyor quarry Hambalang menuju pabrik dengan jarak sembilan kilometer.

Proses produksi yang Berwawasan Lingkungan

Indocement sangat menyadari, kegiatan bisnis yang dijalankan Perseroan banyak bersentuhan dengan lingkungan hidup secara langsung. Untuk itu, Perseroan memberikan perhatian yang sangat besar terhadap permasalahan lingkungan hidup.

Perseroan percaya, lingkungan hidup merupakan salah satu faktor utama dalam menunjang kerbelangsungan bisnis Perseroan. Karena itu, dalam setiap kegiatan bisnis Perseroan senantiasa memastikan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan tidak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan hidup.

Terkait dengan kegiatan produksi, Perseroan telah memiliki standar yang baku untuk menjalankan proses produksi, yaitu:

1. Penggunaan Material dan Energi Ramah Lingkungan dan Daur Ulang
Cement Sustainability Initiative (CSI) merupakan panduan Indocement dalam menjaga keseimbangan antara kegiatan produksi dan kelestarian alam. Perseroan mengembangkan produk ramah lingkungan dengan menggunakan bahan bakar alternatif.

Melalui Proyek Semen Campuran (Blended Cement Project), Indocement mereduksi emisi CO2 dengan memroduksi semen ramah lingkungan. Indocement menggunakan material alternatif untuk mengurangi kandungan klinker dalam proses produksi. Material alternatif yang digunakan berupa limbah Bahan Berbahaya dan Beracun atau Bahan Non-Berbahaya dan Beracun (B3/non-B3), baik yang berasal dari internal Indocement maupun dari eksternal. Jenis limbah tersebut antara lain: iron slag, copper slag, waste water, treatment sludge, grinding sludge, dan bottom ash.

Disamping itu, Perseroan juga menggunakan bahan bakar alternatif dari biomassa dalam upaya menurunkan emisi CO2. Bahan bakar alternative yang digunakan adalah cangkang sawit dan serbuk gergaji yang dianggap sebagai CO2-neutral. Pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar alternatif telah disesuaikan dengan kerangka CDM dalam rangka Protokol Kyoto.

2. Sistem Pengolahan Limbah
Pengelolaan limbah Indocement baik internal maupun eksternal dilakukan dengan menerapkan prinsip 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery). Pengelolaan limbah ini penting untuk memastikan tidak ada dampak negatif pada lingkungan dan sesuai dengan sesuai Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 231 Tahun 2010. Kegiatan pengelolaan dipantau oleh General Manager masing-masing kompleks pabrik yang bertanggung jawab secara langsung kepada Direktur Teknik.

Proses pengelolaan limbah memerhatikan sifat fisik limbah, yaitu berupa padat, cair dan materi di dalamnya B3 dan non-B3. Limbah yang tidak dapat dikelola diserahkan ke pihak ketiga berizin melalui proses penawaran. Proses pengangkutan limbah B3 dan non-B3 beserta pengamanannya menjadi tanggung jawab pihak ketiga sesuai dengan peraturan yang berlaku. Indocement menjamin tidak ada kebocoran maupun tumpahan limbah B3 yang berpotensi membahayakan lingkungan hidup.

3. Mekanisme Pengaduan Masalah Lingkungan 
Masyarakat sekitar pabrik dapat menyampaikan pengaduan masalah lingkungan yang ditimbulkan oleh Indocement melalui pertemuan bipartite antara pihak Perseroan dengan koordinator desa minimal dua bulan sekali di setiap desa.

Kegiatan CSR Lingkungan Hidup Berkelanjutan

Indocement memiliki sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan hidup antara lain :

1. Quarry Life award - Penghargaan terhadap Keanekaragaman Hayati 
Quarry Life Award (QLA) adalah kontes internasional ilmiah dan pendidikan dua tahunan yang diperkenalkan oleh HeidelbergCement Group pertama kalinya pada 2012. QLA merupakan wahana dalam mengedukasi kenekaragaman hayati kepada masyarakat dan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tentang nilai keanekaragaman hayati dari lokasi tambang dan berkontribusi untuk meningkatkannya. QLA merupakan kompetisi penelitian ilmiah keanekaragaman hayati pertama di Indonesia. 

Sesuai dengan jadwal dari penyelenggaran QLA yaitu dua tahunan, maka QLA terakhir dilaksanakan pada 2016 yang diselenggarakan di Kompleks Pabrik Citeureup. Selanjutnya, QLA berikutnya akan dilaksanakan pada 2018.


2. Kampung Ramah Lingkungan 
Kampung Ramah Lingkungan (KRL) merupakan program ini diprakarsai oleh dinas lingkungan hidup tingkat kota/kabupaten. KRL merupakan suatu lokasi dimana masyarakatnya melakukan upaya atau tindakan nyata dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara terukur dan berkesinambungan.

Tujuan KRL adalah untuk mendorong pemerintah daerah, dunia usaha dan masyarakat setempat untuk memahami permasalahan lingkungan dan dampaknya, serta melakukan tindakan mitigasi yang nyata dengan secara proaktif berkontribusi kepada upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Cakupan Kampung Ramah Lingkungan yaitu :
  1. Pengendalian kekeringan, banjir dan longsor melalui kegiatan penghijauan, pengelolaan sampah dan      pembuatan lubang biopori;
  2. Penyediaan bank sampah dan kreasi sampah daur ulang;
  3. Penyediaan tanaman vertikultur dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah;
  4. Edukasi lingkungan bagi warga masyarakat.

Dalam 2017 Program KRL dijalankan secara berkelanjutan di desa mitra Perseroan yaitu Kelurahan Puspanegara dan Desa Citeureup di Kabupaten Bogor dan Kelurahan Randakari di Kabupaten Cilegon. 

Dampak dari kegiatan ini terhadap desa-desa mitra Indocement adalah: 
  1. Kampung/desa lebih bersih karena sampah rumah tangga terkelola dengan baik; 
  2. Meningkatnya ketersediaan air di kampung/desa; 
  3. Meningkatnya ketahanan pangan masyarakat;
  4. Perubahan perilaku dan gaya hidup masyarakat menjadi lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan. 

3. Program Kampung Iklim  
Program Kampung Iklim (Proklim) merupakan program yang digalakkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (“KLHK”) kepada masyarakat melalui pemerintahan desa, yang bertujuan untuk mencegah terjadinya dampak perubahan iklim secara drastis, antara lain kelaparan, kekeringan, dan kesulitan air bersih. Dalam pelaksanaannya, sudah terdapat tujuh desa mitra Indocement yang mendapatkan penghargaan terkait Proklim dari KLHK.

Kegiatan yang dilakukan adalah adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim. Adapun kegiatan adaptasi yang dilakukan adalah sebagai berikut:
  1. Penyuluhan mengenai Pola Hidup Bersih Sehat (PHBS);
  2. Pelaksanaan program peningakatan ketahan pangan;
  3. Pengendalian kekeringan dan banjir (biopori, embung, dan sumur resapan).

Selanjutnya kegiatan mitigasi yang dilakukan adalah sebagai berikut:
  1. Pengelolaan sampah rumah tangga;
  2. Pemakaian energi terbarukan (biogas dan solar cell);
  3. Pengunaan pupuk organik.

Dampak dari pelaksanaan Program Proklim adalah sebagai berikut:
  1. Kampung atau desa lebih bersih karena sampah terkelola dengan baik;
  2. Meningkatnya ketersediaan air; 
  3. Meningkatnya ketahanan pangan khususnya sayuran;
  4. Perubahan perilaku/gaya hidup masyarakat yang lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan.

4. Kampung Inspirasi Cilengkrang
Kampung Inspirasi Cilengkrang yang diresmikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terus berlanjut dan menjadi tempat studi banding untuk daerah lain di Indonesia. Kegiatan ini didasari dari program yang dilaksanakan Indocement dalam memberikan pemahaman kepada warga sekitar untuk peduli terhadap lingkungan dengan melakukan pengelolaan sampah rumah tangga sehingga memiliki nilai jual seperti produksi pupuk kompos dan aneka kerajinan tangan. Di sisi lain, adanya kunjungan dari daerah lain dapat meningkatkan penghasilan masyarakat Kampung Cilengkrang melalui upaya penyediaan berbagai macam kebutuhan antara lain konsumsi, pelatihan, souvenir, dan lain-lain. Program yang dikembangkan di 2017 adalah program pariwisata lingkungan. 

5. Program Sekolah Adiwiyata 
Sekolah Adiwiyata merupakan program kerjasama antara Departemen Pendidikan Nasional dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang dimulai pada tahun 1996. Program ini berfokus kepada pengembangan dan pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup. Tujuan dari program ini adalah untuk menciptakan warga sekolah, khususnya peserta didik yang peduli dan berbudaya lingkungan, sekaligus mendukung dan mewujudkan sumberdaya manusia yang memiliki karakter bangsa terhadap perkembangan ekonomi, sosial, dan lingkungannya dalam mencapai pembangunan berkelanjutan di daerah. Penerapan Program Adiwiyata diwujudkan dengan penanaman pohon di wilayah sekolah, pemanfaatan nilai ekonomis dari penanaman buah dan sayur-sayuran, pemanfaatan resapan air hujan melalui lubang biopori dan sumur resapan, pendirian bank sampah, pengelolaan sampah organik untuk diubah menjadi pupuk kompos sehingga memiliki nilai keekonomian.

Pada tahun 2017 data sekolah adiwiyata:
Jumlah Sekolah Indocement Penerima Adiwiyata 2017 

Kabupaten: 16
Provinsi: 7    
Nasional: 4

Dampak dari program Adiwiyata:
  1. Membentuk karakter warga sekolah dalam upaya menjaga dan melestarikan lingkungan hidup di sekitarnya secara berkelajutan;
  2. Efisiensi pemakaian listrik dan air;
  3. Terciptanya lingkungan sekolah yang bersih, sehat dan hijau.

6. Tegal Panjang, Laboratorium Hidup di Lahan Bekas Tambang Quarry D 
Indocement mempunyai kewajiban untuk melakukan reklamasi pasca tambang. Salah satu lahan yang telah direklamasi adalah lahan bekas tambang Quarry D seluas 60 Hektar di Kompleks Pabrik Citeureup. Reklamasi dilakukan dengan menanam vegetasi berbatang keras seperti Pohon Mahoni dan Pohon Jati. Dari lahan 60 hektar tersebut, seluas 12 hektar diperuntukan sebagai kebun budidaya dan ditanami beragam tanaman hortikultural, rempah dan tanaman hias.

Kegiatan yang dilakukan selama 2017 adalah:
  1. Pemeliharaan semua tanaman di areal reklamasi Quary D;
  2. Budi daya tanaman Philodendron dengan melibatkan para petani desa sebagai program pemberdayaan masyarakat;
  3. Mengembangkan budi daya Jamur untuk meningkatkan pendapatan petani.


Dampak dari kegiatan yang telah dilaksanakan:
  1. Tanaman di lahan reklamasi Quarry D terawat dengan baik;
  2. Peningkatan pendapatan petani dengan program budi daya tanaman philodendron dan budidaya jamur.


7. Indocement Wildlife Education Center (IwEC) 
Di Komplek Pabrik Tarjun, Indocement mendirikan Indocement Wildlife Education Center (IWEC) yang merupakan pusat pelatihan dan penyelamatan satwa langka endemik Kalimantan Selatan. IWEC adalah sebuah upaya untuk mencegah kepunahan satwa langka Bekantan, Owa-Owa dan Rusa Sambar, yang memang secara perlahan mulai terancam habitatnya. IWEC merupakan kerja sama Indocement dengan Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kabupaten Kotabaru, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Organisasi Kalaweit.

Pada 2017 Perseroan masih melanjutkan program IWEC dengan terus melakukan penangkaran untuk hewan langka seperti bekantan, owa-owa dan rusa sambar. Populasi satwa di 2017 adalah sebagai berikut:
  - Bekantan sebanyak enam ekor; 
  - Owa –owa sebanyak tujuh ekor;
  - Rusa Sambar sebanyak delapan belas ekor.

8. Pelestarian Mangrove Desa Langadai, Tarjun
Keberadaan Hutan Mangrove di Desa Langadai terancam karena hutan tersebut ditebang untuk menjadi kayu bakar atau dibuka menjadi tambang oleh masyarakat sekitar, tindakan penebangan tersebut memberikan dampak negatif ke masyarakat

Indocement bersama masyarakat berinisiatif untuk memulihkan kembali kawasan Hutan Mangrove tersebut dengan melakukan reboisasi/penanaman kembali pohon Mangrove. Pada tahun 2014 dibentuklah Kawasan Wisata Hutan Mangrove, Desa Langadai untuk memberikan nilai tambah terhadap pelestarian Hutan Mangrove.

Masyarakat Desa Langadai juga diberikan pelatihan keterampilan dalam pengelolaan hutan wisata, selain itu keberadaan hutan wisata juga membuka ruang usaha baru yaitu seperti pengolahan buah Mangrove menjadi sirup, ataupun dodol, usaha penyewaan jukung untuk berkeliling hutan dan lain-lain.

Biaya yang Dikeluarkan

Indocement memiliki komitmen yang besar terhadap upaya pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup. Salah satu wujud dari komitmen tersebut adalah besarnya anggaran yang dialokasikan Indocement terhadap upaya pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup. Tahun 2017, Indocement mengeluarkan biaya sebesar Rp86.519.199.575 untuk menjalankan kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan hidup.

Sertifikasi di Bidang Lingkungan Hidup

Indocement sangat menyadari bahwa kegiatan usaha yang dijalankannya memiliki kaitan yang sangat dekat dengan lingkungan hidup. Karena itu, untuk memastikan bahwa kegiatan usaha Perseroan tidak memberikan dampak yang buruk terhadap lingkungan hidup, Perseroan melengkapi operasionalnya dengan berbagai sertifikasi berstandar internasional di bidang lingkungan hidup yang diaudit secara berkala.

Tahun 2017, sertifikasi di bidang lingkungan hidup yang dimiliki Indocement antara lain :

Indocement merupakan yang pertama dan satu-satunya pabrikan semen di Indonesia yang menerima Sertifikat Industri Hijau dari Kementerian Perindustrian Republik Indonesia

Selanjutnya, pada 2017 Indocement menerima penghargaan di bidang lingkungan hidup sebagai berikut:

 

43 Tahun Membangun Indonesia KOKOH